Dalam memasuki pernikahan, setiap individu akan mengalami masalah yang lebih berat dibandingkan sebelum menikah. Pernikahan itu menyatukan dua individu yang berbeda. Yang pasti pria dan wanita, dimana pria bertindak lebih didasari oleh logika, sedangkan wanita bertindak lebih didasari oleh perasaan. Jelas begitu berbeda.
Terkadang masalah akan muncul setelah berjalannya pernikahan. Berbagai penyebab muncul. Diantaranya perbedaan pendapat, tidak saling menghargai, kebosanan, cuek dan sedikit komunikasi, sedikit waktu bersama, masalah ekonomi dan keuangan, dan banyak hal lain.
Namun adanya masalah dapat memicu perpecahan atau perceraian. Pernikahan yang sehat dan sukses adalah bukan pernikahan yang tanpa masalah, tapi pernikahan yang walaupun ada masalah namun tetaplah suami istri bersatu menghadapi masalah bersama dan tetap bersuka cita walaupun sebenarnya dalam duka.
Beberapa pasangan diketahui bertahan dalam pernikahan dikarenakan anak. Ada yang sudah muak dengan pasangan mereka bahkan sudah tak saling berbagi dan bersama, membatasi diri dengan pasangan, namun tetap mempertahankan pernikahan dikarenakan anak. Sesungguhnya anak bukanlah alasan yang tepat untuk bertahan dalam pernikahan. Suami istri tidak akan pernah bahagia selama mereka bertahan dalam pernikahan demi anak mereka. Mereka hanya akan bertahan dalam pernikahan karena keterpaksaan.
Sesungguhnya pernikahan hanyalah antara dua orang individu yang berbeda, laki-laki dan perempuan. Awal pernikahan tidak ada anak, akhir pernikahan pun tidak ada anak. Anak hadir dalam pernikahan sebagai keluarga, bukan pernikahan. Anak, buah cinta pernikahan dihadirkan Tuhan dalam pernikahan hingga menjadi keluarga yang lengkap. Namun ada kalanya anak akan meninggalkan ayah dan ibu karena mereka juga akan mengalami pernikahan dan membentuk keluarga baru. Hingga akhirnya hanya akan ada suami dan istri.
Janganlah menggunakan alasan anak untuk bertahan dalam pernikahan. Bertahanlah karena pasangan. Ingatlah setiap saat bahagia bersama pasangan serta setiap janji yang telah dijadikan komitmen sejak awal memutuskan untuk menikah. Jadikan Tuhan dan pasanganmu sebagai alasan bertahan dalam pernikahan seberat apapun masalah yang dihadapi dengan pasangan. Pernikahan haruslah bahagia, walaupun dalam kesesakan masalah sekalipun. Setiap pasangan harus berkomitmen untuk menjaga pernikahan dan saling mengutamakan pasangan masing-masing serta saling hormat dan menghargai pasangan dalam menjalani pernikahan. Harus saling mengerti. Jadikan pernikahan sebagai surga dunia, bukan neraka dunia. Setiap pasangan harus berkomitmen untuk menjaga pernikahan sampai tua dan akhir hayat, mengharamkan kata cerai. Anak, cucu, dan keturunan pun akan melihatnya dan mereka pun akan ikut bahagia.
Sabtu, 09 Februari 2019
Jangan Pertahanan Pernikahan Karena Anak, Tapi Karena Suami Dan Istri Ingin Bertahan Dalam Satu Kasih
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
lalu bagaimana jika retaknya rumah tangga karena adanya orang ke3 yang mengharuskan untuk berpisah.??
BalasHapusPernikahan terdiri dari dua orang yang saling mencintai dan memiliki komitmen dan tujuan. Jika ada orang ketiga haruslah orang ketiga yang pergi, bukan salah satu dari pembangun pernikahan. Pernikahan itu kasih, kasih itu memaafkan.
HapusTidak ada yang mengharuskan rumah tangga(pernikahan) untuk berpisah sekali pun itu orang ke tiga. Pernikahan terdiri dari dua orang yang berkomitmen, jika ada orang ke tiga, artinya salah satu orang dalam pernikahan ada yang merusak komitmen, dan komitmennya yang harus diperbaiki. Sebelum orang ke tiga masuk, pastilah ada penyebabnya. Entah kejenuhan, kurang peka, mudah tergoda, atau pun godaan yang terus-menerus datang. Untuk menghadapi itu haruslah setiap orang dalam pernikahan saling terbuka dan percaya, saling mengerti.
HapusMEMAAFKAN,
Dan jika orang ke tiga sudah masuk, yang membawa/membuka pintu untuk orang ke tiga harus diajak kembali membangun komitmen dan tujuan dalam pernikahan dan rumah tangga. Sebagai korban pastilah tak mudah, karena perasaan begitu sakit ketika dikhianati. Sebelum itu, sebagai korban, ingatlah kembali setiap masa indah bersama pasangan, ingatlah bagaimana pernah saling menemani, saling merawat, saling mendukung dan banyak melakukan hal-hal bersama, demi membangun 'maaf' yang tulus untuk pasangan yang berkhianat, dimana maaf merupakan bukti dari kasih/cinta, dan pernikahan yang benar sesungguhnya berawal dari kasih, dari dua orang yang saling mencintai. Jika kamu mencintainya, kamu memaafkannya sesakit apapun itu. Bawa dia kembali padamu karena setelah menikah, dia milikmu. Jangan biarkan kepunyaanmu hilang/pergi.
INGATLAH,
Yang harus pergi adalah orang ke tiga, bukan salah satu dari dua orang yang membangun pernikahan. Yakinlah orang ketiga tak akan benar-benar membuat pasanganmu bahagia, hanya orang tak baik yang mau menjadi orang ketiga. 'Singkirkan' orang ketiga dan rebut kembali kekasihmu.
Percayalah bahwa kekasihmu tak benar-benar mencintai orang ketiga, bisa jadi dia hanya kagum yang artinya ketertarikan sementara, ataupun hanya mengikuti nafsu. Bagaimana pun juga pastilah kamu satu-satunya orang yang benar-benar dicintainya dalam hatinya.